Desember 2008


bu endang syukron

suatu hari ibuku mendapat SMS dari guru ngajinya. Karena kerika itu Hp tertinggal dirumah maka bapakku yang membuka dan membaca SMS tersebut. Sesampainya kami dirumah bapakku memberitahu perihal SMS tersebut. ”Bu tadi ada SMS dari pak ustadz, beliau menanyakan nomor telepon bu endang syukron,” kata bapak.
ibuku bingung, teman ngaji sesama murid sang ustadz memang ada yang dipanggil bu endang, tapi nama belakangnya bukan ”syukron”. Nama suami bu endang pun bukan ”syukron”. Ibu tak merasa memiliki teman yang bernama ”Endang Syukron” karena heran ibus segera menganmbil hp untuk melihat sendiri isi pesan sms tesebut. Setelah itu ibu tertawa sendiri usai membaca SMS tersebut. ”Oalah pak…. yang dimaksud bu endang itu memang teman ngaji saya, tapi ”syukron”yang dimaksud dalam SMS itu artinya terima kasih, bukan nama orang,”kata ibu sambil tak kuasa manahan tawa.

namaku mujahid
pemilik sah tanah Palestina
kau lecehkan al-Quran kiblatku dengan
kekejian
kau hinakan hak-hak miliku atas tanah
moyangku
tanah air yang akan ku bela hingga ribuan
generasi lahir
maka kukirim kembali petaka yang kau kirim
gelombang mujahid yang tak bakal surut
meski dengan batu dan panah
meski dengan lemparan api dan bom syahid
biar generasiku syahid
tapi generasiku setelahku akan bangkit
tak akan padam gelombang api yang kau sulut
tak akan redam genderang perang yang kau tabur

meski kesuburan perempuanku sengaja kau libas
lelaki dan pemuda negriku kau tumpas
tapi sumpahku tak akan tuntas
ku kirim anak-anak lelakiku dan bayi-bayi perempuannku
ke medan perang kelak
yang akan menuntut hak yang sama atas
tanah
kelahiranku

tanah Palestina
tanah para syuhada
tanah tempat wangi penghuni surga

sabili,2006